TERNYATA BUKU ITU TIDAK HANYA TERBIT, TAPI LARIS
Selasa, 24 Februari 2009
Buku yang berjudul “Persembahan Untuk Ibu” telah terbit pada bulan Maret 2008. Saat terbit buku itu langsung ludes 2.000 eksemplar yang diborong oleh salah satu pengusaha property di Pontianak yang bernama Harso Utomo Suwito. Buku itu diborong dan dibagikan secara gratis pada anak-anak yang hadir pada acara hari anak di Pendopo Gubernur.
Setelah acara itu, penulisnya yang bernama Fredy mencetak 1.000 eksemplar lagi dan dikampanyekan dari sekolah ke sekolah dalam acara diskusi sastra. Sekolah yang telah dimasuki adalah SMP Imanuel, SMP Bruder, SMP Santo Petrus, dan SMP-SMA Santo Fransiskus Asisi. Kunjungan tersebut telah cukup mendongkrak kreatifitas siswa-siswi Pontianak. Terbukti setelah acara ada banyak karya baik puisi maupun cerpen yang diajukan ke Fredy untuk dimintai pendapat dan saran. Tak kurang juga mereka mencoba mengirimkan karya mereka ke media massa yang ada di Pontianak.
Bagaimana buku itu mampu memotivasi para siswa di Pontianak?
Dalam buku yang berjudul “Persembahan Untuk Ibu” karya Fredy tersebut terdapat 4 cerpen yang 2 diantaranya pernah dimuat di Borneo Tribun, 2 puisi, dan yang paling dahsyat adalah adanya halaman bedah nulis. Pada halaman “Bedah Nulis”, Fredy mencoba berbagi cerita: apa sih alasan menulis?, bagaimana sih supaya karya kita layak dimuat di media massa atau diterbitkan jadi buku?, Terus kalau sudah punya karya, teknis mengirimkan naskahnya gimana?, alamat e-mail media massa dan alamat penerbitan buku juga terlampir, termasuk penerbitan independent yang bernama “Diamond Publishing” yang dikelola Fredy.
Selain itu, setelah diskusi, para pelajar yang telah membeli dan membaca buku “Persembahan Untuk Ibu” juga mengirimkan pesan singkat ke nomor Hand Phone yang ditinggalkan penulis untuk mereka, mereka memberikan tanggapan dan saran. Tapi pada kenyataannya yang didapat adalah pengakuan mereka atas karya itu. Ada yang mengatakan kalau karya Fredy sangat mengharukan, menyentuh hati, sangat inspiratif, memberikan pelajaran dan motivasi, dan juga dari buku saku tersebut mereka bisa terinspirasi membuat puisi yang siap dikirim ke media massa. Bahkan ada juga yang membeli buku tersebut hanya sebagai sebuah kado sederhana untuk Ibu mereka yang kata mereka buku itu telah menyenangkan Ibu mereka karena setelah Ibu mereka membacanya, Ibu mereka selalu mengatakan karya itu adalah karya yang sangat bagus.
Hal-hal itulah yang membuat karya Fredy yang berjudul “Persembahan Untuk Ibu” tidak hanya sekedar beredar dipasaran, tapi juga laris. Bagi Fredy, syukurlah kalau karya tersebut bisa memberikan inspirasi dan memotivasi pembacanya.
Kamis, 15 Mei 2008

BUKU BARU!! BUKU Ke-2 dari FREDY.
BENARKAH ADA IBU YANG TIDAK MENYAYANGI ANAKNYA?
Atau Sebaliknya
BENARKAH TIDAK ADA RASA SAYANG SEDIKIT PUN DALAM HATI SEORANG ANAK KEPADA IBUNYA?
Dapatkan kedua jawaban di atas dan dapatkan juga tips, keuntungan menulis, cara menyalurkan karya Anda dalam buku “PERSEMBAHAN UNTUK IBU”.
Membaca buku ini membuat saya rindu akan belaian dan dongengan sederhana menjelang tidur. Sungguh buku luar biasa, yang mampu menggugah siapa saja untuk menghargai perjuangan seorang Ibu.
(Pay Jarot Sujarwo, Penulis Muda & Motivator Penulisan Remaja)
Penulis adalah tipe anak muda yang pantang menyerah, dengan percaya diri yang tinggi dan bakat seni menulis yang dilaluinya dengan perjuangan, mulai belajar menulis hingga dengan berani mewujudkan impiannya dengan menghasilkan karyanya sendiri, betul-betul perjuangan yang luar biasa.
(Untung Aprianto, S. Pd, Pengamat Seni dan Bahasa, Singkawang)
LUAR BIASA!! Fredy mengingatkan saya akan peran saya bagi kedua anak saya.
(Paulina, Ibu Rumah Tangga)
Setelah membaca buku ini, dengan segera saya menelepon Ibu.
(Amrin ZR, Penulis Buku Kumpulan Cerpen “Wanita Penjaga Api”)
Dengan diterbitkannya buku ini,dapat menggugah para pembaca yang tersisihkan atau yang selalu dihina agar bangkit dan tidak merasa terhina di mata orang banyak. Sehingga berjuang maju tanpa melihat dari kalangan mana kita.
(Maryam A. J, Guru SD)
Bagi Anda yang ingin sekolah atau organisasinya dikunjungi untuk memotivasi ataupun seminar, harap e-mail ke fredy_m07b@yahoo.co.id atau isi cbox yang ada pada blog ini. Tanpa dipungut biaya apapun. GRATIS!! Peserta dalam acara minimal 200 orang.
Biografi 'Binatang Jalang'
Minggu, 13 Mei 2007

BIOGRAFI
Chairil AnwarPotret Lusuh Seorang SastrawanDI sebuah senja, 1943, seorang lelaki bermata merah, ceking dan lusuh, berjalan di antara gerbong-gerbong tua di Stasiun Senen. Matanya menerawang, sebelum langkahnya terhenti di gubuk reot mesum. Dihampirinya perempuan hamil penunggu gubuk itu, di rebahkannya tubuh ringkih itu di pangkuan si perempuan, matanya tetap menerawang.
Perempuan itu, Marsiti, segera membukai baju si lelaki, memijat punggungnya, dan mereka bermesraan sesaat.
Kemudian lelaki itu kembali tenggelam dalam bacaannya, buku puisi Marsman, yang dia curi entah dari mana.Lelaki itu adalah Chairil Anwar, yang jika gundah pasti mendatangi Marsiti, entah itu untuk bermesraan, mencari makan, atau memamerkan beberapa puisi baru yang telah dia ciptakan atau terjemahkan.Chairil memang sosok yang jalang. Pelacuran, minuman keras, pencurian buku kecil-kecilan, tapi juga kekacauan perang, selalu dia masuki. Semua itu, bagi dia, adalah dunia kacau yang selalu memberi inspirasi. Tak heran jika di kepala dia hanya ada satu kata; sastra. Akibatnya, secara ekonomi Chairil tak pernah mandiri.Ketakmandirian inilah yang justru membuat Chairil punya banyak teman. "Kadang dia datang menyerahkan sebuah puisi, dan langsung meminta honorariumnya. Dia selalu yakin puisinya pasti kami muat," kenang Kodrat, redaktur Pustaka Jaya.Di mata Ida Rosihan Anwar, sosok Chairil selalu menyebalkan. "Ia selalu kelaparan, minta uang, dan makan di sana-sini," kenangnya. "Tapi anehnya, dia selalu diterima semua kawan, dan jika dia tak datang, banyak yang merasa kehilangan," tambah Ida, dalam acara "50 Tahun Wafatnya Chairil Anwar" di Taman Ismail Marzuki, 1999 lalu. "Jika tiga hari dia tidak datang, kami semua kehilangan. Tapi jika dia datang, jatah makan kami pun berkurang. Dia sosok yang menjemukan, sekaligus dirindukan. Bicara dengannya, saya selalu merasa kecil," kenang Sobron Aidit, dalam situs pribadinya.Keusilan Chairil memang banyak menebar kenangan. Chairil pernah meminta puisi Sobron untuk dimuat, dan saat dimuat, honornya tak pernah dia terima. "Waktu saya tanya, dengan senyum Chairil bilang, 'Soto yang kau makan lahap kemarin itulah honormu'. Saya selalu ingat gaya tenangnya jika ketahuan menipu," tambah Sobron.Berpihak pada IbuChairil lahir di Medan, 26 Juli 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Orang tuanya bercerai, dan ayahnya kawin lagi. Setelah perceraian itu, saat usai SMA, Chairil ikut ibunya ke Jakarta. Masa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Kedekatan ini begitu berkesan bagi Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda keberpihakan akan nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acap kehilangan sosoknya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada sang ibu.Sejak kecil, semangat Chairil terkenal liat. Jassin punya kenangan tentang ini. "Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dia dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu karena kami bertanding di depan para gadis."Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil menikah.Pernikahan itu tak berumur panjang. Karena kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah mengajukan cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusastraan Indonesia. Dia bahkan menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersetengah-setengah di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, "SAYA minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar." (aulia am


